Masa Penyimpanan ASI Perah yang Baik dan Aman

Category : ASI

Di jaman yang serba sibuk seperti sekarang, menyusui anak secara langsung adalah hal yang terkadang mustahil untuk dilakukan oleh sebagian orang, tuntutan karier dan pekerjaan menjadi alasan utama mengapa memerah dan menyimpan ASI menjadi pilihan untuk sang buah hati.

Solusi yang tepat untuk para wanita karier yang harus menyusui adalah dengan memberikan ASI perah. Walaupun dari segi emosional antara ibu dan anak sangatlah kurang, namun memberikan ASI perah tetap aman diminum oleh sang bayi.

Masa penyimpanan ASI Perah

Masa penyimpanan ASI perah berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jika ASI perah yang diberikan kurang dari 6 jam, maka Anda tidak perlu menyimpan ASI perah dalam lemari pendingin.

ASI perah juga masih sangat aman diberikan untuk sang buah hati walaupun telah disimpan dalam suhu kamar selama 3 sampai 4 jam. Inilah salah satu kelebihan ASI dibandingkan dengan air susu formula.

Anda juga bisa memasukan ASI perah pada lemari pendingin dengan suhu minimal 4 derajat celcius dan dapat dibekukan untuk penyimpanan jangka waktu lama.

Untuk Anda yang berencana untuk meninggalkan sang buah hati dalam waktu yang lama, misalnya satu atau dua minggu, Anda bisa menyimpan ASI perah dalam lemari es dan didinginkan terlebih dahulu selam 30 menit.

Setelah didinginkan, bekukanlah ASI perah tersebut dengan suhu yang mencapai -18 derajat celcius atau bisa lebih rendah dari itu. Yang tak kalah pentingnya adalah tidak boleh menyimpan ASI pada rak yang menempel di lemari pintu pendingin Anda. ASI yang dibekukan di freezer kulkas satu pintu dapat tahan hingga 3 minggu, sementara jika disimpan dalam freezer kulkas 2 pintu dapat tahan hinga 3 bulan.

Untuk menjaga kebaikan ASI perah sebaiknya berikan label yang berisi nama, tanggal perah. Gunakan sistem First In First Out untuk penggunaan ASI perah tersebut.

Incoming search terms:

Induksi Laktasi

2

Category : ASI

 Perempuan memiliki kodrat untuk hamil dan menyusui,  setiap perempuan dengan kondisi payudara sehat dapat menyusui. Meskipun perempuan tersebut belum pernah hamil ataupun sudah mengalami menopause, proses menyusui dapat dilakukan. Agar hal ini dapat dilakukan perlu adanya faktor hormonal yang berperan dalam mempersiapkan payudara untuk menyusu, payudara yang sehat, dan yang terpenting adalah keinginan kuat untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu).

Istilah menyusui bayi adopsi yang dilakukan oleh perempuan yang belum pernah hamil ataupun sudah mengalami menopause adalah induksi laktasi. Proses melakukan induksi laktasi melalui beberapa langkah dan ada protokol-protokol yang diikuti sesuai dengan kondisi bayi yang akan diadopsi ataupun kondisi ibu.

Protokol untuk induksi laktasi didesain untuk mempersiapkan payudara ibu untuk memproduksi ASI, sama seperti payudara saat kondisi hamil. Persiapan payudara dilakukan dengan mengkonsumsi pil KB (Keluarga Berencana) kombinasi estrogen/progesterone (Yasmin) atau jika berusia di atas 35 tahun atau kontraindikasi dengan penggunaaan pil KB kombinasi dapat menggunakan provera 2,5 atau prometrium 100 mg. Payudara yang dipersiapakn untuk menyusu akan meningkat ukurannya, terasa lebih penuh, dan sedikit nyeri. Beberapa ibu ada yang hanya langsung menempelkan bayi ke payudara dan tidak melakukan persiapan terhadap payudaranya kemudian hanya melihat reaksi bayi, hal ini dapat dilakukan namun produksi ASI biasanya tidak maksimal, karena payudara belum disiapkan untuk memproduksi.

Protokol induksi laktasi melibatkan langkah-langkah mempersiapkan payudara untuk memproduksi ASI, menginduksi produksi dengan menggunakan domperidone, melakukan pemompaan ASI pada payudara dan penggunaan herbal jika diperlukan untuk merangsang produksi ASI.  Protokol induksi laktasi terdiri dari : Protokol Reguler, Protokol Akselerasi, Protokol Menopause. Sebagai patokan, semakin lama ibu dapat menjalani protokol yang sesuai dengannya maka semakin maksimal hasilnya.

  • Protokol Reguler

Protokol ini digunakan untuk ibu yang menanti bayi adopsi yang masih berada dalam kandungan dengan jangka waktu yang panjang. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Enam bulan (lebih lama lebih baik) sebelum bayi lahir minum pil KB yang aktif setiap hari 1 tablet + 10 mg domperidon 4 kali sehari selama seminggu. Kemudian tingkatkan dosis domperidon menjadi 20 mg  4 kali sehari. Payudara akan bengkak namun belum produksi ASI, kondisi ini menyerupai kondisi payudara saat hamil. Pompa tidak boleh dilakukan pada masa persiapan ini,karena payudara belum produksi ASI.
  2. Lima bulan sebelum bayi lahir, ambil pil KB aktif setiap hari+tetap minum domperidon 4×20 mg
  3. Empat bulan sebelum bayi lahir ambil pil KB aktif+ tetap minum domperidon 4×20 mg
  4. Enam minggu sebelum bayi lahir, hentikan pil KB, dan tetap lanjutkan minum domperidon dengan dosis 4×20 mg per hari. Ibu mungkin akan mengalami perdarahan melalui kemaluan yang merupakan reaksi dari berhentinya meminum pil KB. Jika hal tersebut tidak terjadi, sebaiknya cek kehamilan terlebih dahulu.
  5. Dua minggu kemudian mulai pompa dengan langkah pompa selama 5-7 menit dengan daya hisap rendah atau medium, pijat payudara, lalu pompa kembali 5-7 menit. Dianjurkan ibu memompa tiap 3 jam.
  6. 1 bulan sebelum bayi lahir tetap lanjutkan domperidon 4×20 mg/hari, pompa seperti langkah sebelumnya dan pompa minimal sekali di malam hari. Jika diperlukan silakan konsumsi herbal seperti fenugreek 3×3 kapsul atau konsumsi daun torbangun
  7. Ketika bayi sudah lahir, ibu tetap konsumsi domperidon dengan dosis yang sama hingga dicapai produksi ASI sesuai kebutuhan atau hingga bayi disapih dari payudara. Karena suplai ASI masih dibentuk, sangat dianjurkan untuk melakukan pemerahan ASI selama 10 menit setiap habis disusukan.
  • Protokol Akselerasi

Protokol ini digunakan untuk ibu yang memiliki waktu sedikit atau untuk ibu yang ingin relaktasi.

Produksi ASI kemungkinan masih rendah dengan protokol ini. Pil KB Yasmin diminum selama 30-60 hari nonstop, hanya pil aktif saja, tanpa plasebo. Domperidon diminum langsung 4x 20 mg per hari. Jika, payudara dirasakan berubah dalam 30 hari, hentikan pil KB tetap lanjutkan domperidon dan lanjutkan dengan pompa payudara.

Produksi ASI mungkin tidak sebanyak dengan yang melakukan protokol regular, ibu dapat menggunakan alat bantu berupa feeding tube yang diisi nutrisi suplementasi baik dari asi donor ataupun susu hewan. Alat bantu ini ditempelkan dekat putting ibu, sehingga bayi akan menghisap payudara ibu sekaligus feeding tube yang sudah berisi nutrisi suplementasi.

Jika ibu hanya memiliki waktu 4 minggu atau kurang sebelum bayi datang, protokol ini tetap dapat dilakukan. Pemberian pil KB diberikan segera, tidak melihat siklus menstruasi, bersma domperidon 4×20 mg per hari. Ibu dapat merasa lemas karena perubahan yang cepat, usahakan lakukan langkah ini selama 30 hari untuk hasil maksimal.

Setelah ibu menyelesaikan protokol selama  minimal 30 hari, dan sudah merasakan perubahan pada payudaranya maka pil KB dapat dihentikan dan tetap lanjutkan domperidon kemudian lanjut memompa payudara.

  • Protokol Menopause

Jika ibu sudah mengalami menopause karena operasi pengangkatan organ reproduksi (histerektomi radikal) atau menopause secara alamiah maka protokol ini dapat digunakan.

Langkah pertama adalah menghentikan terapi pengganti hormonal dan menggantinya dengan pil KB. Selain itu, ibu juga mengkonsumsi domperidon 4×10 mg per hari selama minggu pertama dan tingkatkan menjadi 4×20 mg per hari di minggu berikutnya. Lakukan terapi ini hingga dirasakan adanya perubahan pada payudara, setidaknya selama 60 hari. Setelah 60 hari dan ibu mengalami perubahan kondisi pada payudaranya maka hentikan pil KB dan lanjutkan langkah berikutnya dengan tetap meminum domperidon 4×20 mg per hari serta pompa payudara.

Jika ibu mengalami gejala menopause atasi dengan mengkonsumsi kedelai karena di dalam kedelai mengandung fitoestrogen, konsumsi secukupnya jangan berlebihan karena akan menurunkan produksi ASI.

Menyusui dapat dilakukan oleh perempuan dengan kondisi hipofisis yang sehat, karena hormon prolaktin dan oksitosin berada disana, payudara yang sehat serta memiliki keinginan kuat untuk memberikan ASI.

Incoming search terms:

Galactagog (Booster ASI)

Category : ASI

Galactagog (booster ASI) adalah substansi yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI, seperti  obat, herbal atau makanan.

Saat dirasakan ASI berkurang, yang perlu dilakukan sebagai langkah awal  adalah:
1. Melakukan perunutan riwayat menyusu pada anak dan ibu
2. Mengevaluasi apakah produksi ASI dan transfer ASI ke bayi cukup untuk mempertahankan suplai yang adekuat.

Jika,produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi maka rencana komprehensif harus dibuat bersama konselor/IBCLC. Baik faktor eksternal maupun  internal perlu dipertimbangkan seperti :
1. Edukasi ttg ASI dan menyusui dan dukungan yang terlibat lebih penting dibandingkan mengukur berapa volume ASI ibu.
2. Galactagog (booster ASI) dapat menjadi bagian dari rencana, namun pada kasus kebanyakan tidak dijadikan terapi utama.

Karena,dasar dari produksi ASI adalah supply meet demand, semakin banyak dikeluarkan maka tepat pengeluaran ASInya dan semakin banyak diproduksi. Mengidentifikasi dan mengatasi semua faktor yang mempengaruhi rendahnya produksi akan memberikan hasil TERBAIK!

Apa saja yang bisa digunakan sebagai galactagog (booster ASI)? Semua makanan, obat, herbal yang dipercaya oleh kita bisa meningkatkan adalah galactagog (booster ASI). Obat yg diketahui memiliki efek samping sebagai galactagog (booster ASI) adalah Metokloperamid & Domperidone yang merupakan obat mual, serta Oksitosin nasal spray.

Metokloperamide memiliki efek ke sistem saraf, domperidone diketahui sedikit mempengaruhi sistem saraf. Oksitosin nasal spray tdk dijual di sini, berperan untuk meningkatkan LDR, saat LDR ibu terhalang oleh nyeri&stres.

Makanan yang terbukti secara ilmiah meningkatkan produksi ASI adalah Fenugreek dan Torbangun. Fenugreek sulit dicari di Indonesia. Dari NCBI didapatkan hasil penelitian dosen IPB ttg Torbangun (ajeran-Sunda,Canim-Jateng) yang terbukti dapat meningkatkan produksi ASI.

Incoming search terms: