Menyusui dan Bekerja, Tantangan Wanita Karir

Category : ASI

Untuk wanita karir, memiliki seorang anak tidak hanya merupakan sebuah kebahagiaan dan anugerah semata, tetapi juga merupakan sebuah tantangan baru yang harus dihadapi.

Disaat sang buah hati membutuhkan ASI Eksklusif, Anda sudah dihadapkan pada kewajiban kantor untuk kembali masuk kerja seperti biasa. lalu bagaimanakah cara yang paling tepat untuk menghadapi masalah seperti itu?

Berikut ini adalah tips menyusui yang tepat untuk wanita karier yang super sibuk.

Jaga kondisi tubuh agar tidak kecapean

Jagalah kondisi tubuh Anda agar tidak terlalu cape karena hal tersebut akan berimbas juga pada kualitas air susu Anda. Terlalu lelah Anda bekerja, maka kualitas air susu pun akan semakin berkurang.

Hindari lembur

Jika pekerjaan terlalu menumpuk, Anda bisa mendelegasikannya kepada bawahan, sebisa mungkin hindarilah untuk kerja lembur karena buah hati Anda memiliki hak untuk ‘disentuh’.

Jadwal ulang waktu dinas ke luar kota

Untuk Anda yang memiliki tugas khusus keluar kota, sebaiknya delegasikanlah kepada bawahan Anda atau jadwal ulang waktu dinas ke luar kota Anda.

Hindari Stres  di kantor

Banyak hal bisa memicu stres saat bekerja, entah itu karena jenis pekerjaan, lingkungan pekerjaan atau bisa juga karena masalah dengan rekan kerja. Sebisa mungkin hindarilah segala hal yang bisa memicu stres Karena itu akan berimbas pada produksi ASI Anda.

Anak dan karier memang terkadang menjadi dilema tersendiri. Namun untuk Anda yang bijak, Anda pasti bisa membagi waktu secara adil. Ingatlah bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sangat baik, dan pekerjaan juga adalah amanah yang harus dikerjakan secara professional.

Incoming search terms:

Masa Penyimpanan ASI Perah yang Baik dan Aman

Category : ASI

Di jaman yang serba sibuk seperti sekarang, menyusui anak secara langsung adalah hal yang terkadang mustahil untuk dilakukan oleh sebagian orang, tuntutan karier dan pekerjaan menjadi alasan utama mengapa memerah dan menyimpan ASI menjadi pilihan untuk sang buah hati.

Solusi yang tepat untuk para wanita karier yang harus menyusui adalah dengan memberikan ASI perah. Walaupun dari segi emosional antara ibu dan anak sangatlah kurang, namun memberikan ASI perah tetap aman diminum oleh sang bayi.

Masa penyimpanan ASI Perah

Masa penyimpanan ASI perah berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jika ASI perah yang diberikan kurang dari 6 jam, maka Anda tidak perlu menyimpan ASI perah dalam lemari pendingin.

ASI perah juga masih sangat aman diberikan untuk sang buah hati walaupun telah disimpan dalam suhu kamar selama 3 sampai 4 jam. Inilah salah satu kelebihan ASI dibandingkan dengan air susu formula.

Anda juga bisa memasukan ASI perah pada lemari pendingin dengan suhu minimal 4 derajat celcius dan dapat dibekukan untuk penyimpanan jangka waktu lama.

Untuk Anda yang berencana untuk meninggalkan sang buah hati dalam waktu yang lama, misalnya satu atau dua minggu, Anda bisa menyimpan ASI perah dalam lemari es dan didinginkan terlebih dahulu selam 30 menit.

Setelah didinginkan, bekukanlah ASI perah tersebut dengan suhu yang mencapai -18 derajat celcius atau bisa lebih rendah dari itu. Yang tak kalah pentingnya adalah tidak boleh menyimpan ASI pada rak yang menempel di lemari pintu pendingin Anda. ASI yang dibekukan di freezer kulkas satu pintu dapat tahan hingga 3 minggu, sementara jika disimpan dalam freezer kulkas 2 pintu dapat tahan hinga 3 bulan.

Untuk menjaga kebaikan ASI perah sebaiknya berikan label yang berisi nama, tanggal perah. Gunakan sistem First In First Out untuk penggunaan ASI perah tersebut.

Incoming search terms:

Induksi Laktasi

2

Category : ASI

 Perempuan memiliki kodrat untuk hamil dan menyusui,  setiap perempuan dengan kondisi payudara sehat dapat menyusui. Meskipun perempuan tersebut belum pernah hamil ataupun sudah mengalami menopause, proses menyusui dapat dilakukan. Agar hal ini dapat dilakukan perlu adanya faktor hormonal yang berperan dalam mempersiapkan payudara untuk menyusu, payudara yang sehat, dan yang terpenting adalah keinginan kuat untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu).

Istilah menyusui bayi adopsi yang dilakukan oleh perempuan yang belum pernah hamil ataupun sudah mengalami menopause adalah induksi laktasi. Proses melakukan induksi laktasi melalui beberapa langkah dan ada protokol-protokol yang diikuti sesuai dengan kondisi bayi yang akan diadopsi ataupun kondisi ibu.

Protokol untuk induksi laktasi didesain untuk mempersiapkan payudara ibu untuk memproduksi ASI, sama seperti payudara saat kondisi hamil. Persiapan payudara dilakukan dengan mengkonsumsi pil KB (Keluarga Berencana) kombinasi estrogen/progesterone (Yasmin) atau jika berusia di atas 35 tahun atau kontraindikasi dengan penggunaaan pil KB kombinasi dapat menggunakan provera 2,5 atau prometrium 100 mg. Payudara yang dipersiapakn untuk menyusu akan meningkat ukurannya, terasa lebih penuh, dan sedikit nyeri. Beberapa ibu ada yang hanya langsung menempelkan bayi ke payudara dan tidak melakukan persiapan terhadap payudaranya kemudian hanya melihat reaksi bayi, hal ini dapat dilakukan namun produksi ASI biasanya tidak maksimal, karena payudara belum disiapkan untuk memproduksi.

Protokol induksi laktasi melibatkan langkah-langkah mempersiapkan payudara untuk memproduksi ASI, menginduksi produksi dengan menggunakan domperidone, melakukan pemompaan ASI pada payudara dan penggunaan herbal jika diperlukan untuk merangsang produksi ASI.  Protokol induksi laktasi terdiri dari : Protokol Reguler, Protokol Akselerasi, Protokol Menopause. Sebagai patokan, semakin lama ibu dapat menjalani protokol yang sesuai dengannya maka semakin maksimal hasilnya.

  • Protokol Reguler

Protokol ini digunakan untuk ibu yang menanti bayi adopsi yang masih berada dalam kandungan dengan jangka waktu yang panjang. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Enam bulan (lebih lama lebih baik) sebelum bayi lahir minum pil KB yang aktif setiap hari 1 tablet + 10 mg domperidon 4 kali sehari selama seminggu. Kemudian tingkatkan dosis domperidon menjadi 20 mg  4 kali sehari. Payudara akan bengkak namun belum produksi ASI, kondisi ini menyerupai kondisi payudara saat hamil. Pompa tidak boleh dilakukan pada masa persiapan ini,karena payudara belum produksi ASI.
  2. Lima bulan sebelum bayi lahir, ambil pil KB aktif setiap hari+tetap minum domperidon 4×20 mg
  3. Empat bulan sebelum bayi lahir ambil pil KB aktif+ tetap minum domperidon 4×20 mg
  4. Enam minggu sebelum bayi lahir, hentikan pil KB, dan tetap lanjutkan minum domperidon dengan dosis 4×20 mg per hari. Ibu mungkin akan mengalami perdarahan melalui kemaluan yang merupakan reaksi dari berhentinya meminum pil KB. Jika hal tersebut tidak terjadi, sebaiknya cek kehamilan terlebih dahulu.
  5. Dua minggu kemudian mulai pompa dengan langkah pompa selama 5-7 menit dengan daya hisap rendah atau medium, pijat payudara, lalu pompa kembali 5-7 menit. Dianjurkan ibu memompa tiap 3 jam.
  6. 1 bulan sebelum bayi lahir tetap lanjutkan domperidon 4×20 mg/hari, pompa seperti langkah sebelumnya dan pompa minimal sekali di malam hari. Jika diperlukan silakan konsumsi herbal seperti fenugreek 3×3 kapsul atau konsumsi daun torbangun
  7. Ketika bayi sudah lahir, ibu tetap konsumsi domperidon dengan dosis yang sama hingga dicapai produksi ASI sesuai kebutuhan atau hingga bayi disapih dari payudara. Karena suplai ASI masih dibentuk, sangat dianjurkan untuk melakukan pemerahan ASI selama 10 menit setiap habis disusukan.
  • Protokol Akselerasi

Protokol ini digunakan untuk ibu yang memiliki waktu sedikit atau untuk ibu yang ingin relaktasi.

Produksi ASI kemungkinan masih rendah dengan protokol ini. Pil KB Yasmin diminum selama 30-60 hari nonstop, hanya pil aktif saja, tanpa plasebo. Domperidon diminum langsung 4x 20 mg per hari. Jika, payudara dirasakan berubah dalam 30 hari, hentikan pil KB tetap lanjutkan domperidon dan lanjutkan dengan pompa payudara.

Produksi ASI mungkin tidak sebanyak dengan yang melakukan protokol regular, ibu dapat menggunakan alat bantu berupa feeding tube yang diisi nutrisi suplementasi baik dari asi donor ataupun susu hewan. Alat bantu ini ditempelkan dekat putting ibu, sehingga bayi akan menghisap payudara ibu sekaligus feeding tube yang sudah berisi nutrisi suplementasi.

Jika ibu hanya memiliki waktu 4 minggu atau kurang sebelum bayi datang, protokol ini tetap dapat dilakukan. Pemberian pil KB diberikan segera, tidak melihat siklus menstruasi, bersma domperidon 4×20 mg per hari. Ibu dapat merasa lemas karena perubahan yang cepat, usahakan lakukan langkah ini selama 30 hari untuk hasil maksimal.

Setelah ibu menyelesaikan protokol selama  minimal 30 hari, dan sudah merasakan perubahan pada payudaranya maka pil KB dapat dihentikan dan tetap lanjutkan domperidon kemudian lanjut memompa payudara.

  • Protokol Menopause

Jika ibu sudah mengalami menopause karena operasi pengangkatan organ reproduksi (histerektomi radikal) atau menopause secara alamiah maka protokol ini dapat digunakan.

Langkah pertama adalah menghentikan terapi pengganti hormonal dan menggantinya dengan pil KB. Selain itu, ibu juga mengkonsumsi domperidon 4×10 mg per hari selama minggu pertama dan tingkatkan menjadi 4×20 mg per hari di minggu berikutnya. Lakukan terapi ini hingga dirasakan adanya perubahan pada payudara, setidaknya selama 60 hari. Setelah 60 hari dan ibu mengalami perubahan kondisi pada payudaranya maka hentikan pil KB dan lanjutkan langkah berikutnya dengan tetap meminum domperidon 4×20 mg per hari serta pompa payudara.

Jika ibu mengalami gejala menopause atasi dengan mengkonsumsi kedelai karena di dalam kedelai mengandung fitoestrogen, konsumsi secukupnya jangan berlebihan karena akan menurunkan produksi ASI.

Menyusui dapat dilakukan oleh perempuan dengan kondisi hipofisis yang sehat, karena hormon prolaktin dan oksitosin berada disana, payudara yang sehat serta memiliki keinginan kuat untuk memberikan ASI.

Incoming search terms: