Menyusui Saat Hamil

Category : ASI

Standar emas makanan bayi dan anak menurut WHO adalah memberikan ASI hingga usia 2 tahun atau lebih.  Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi kehamilan semasa menyusui, hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah menyusui perlu dilanjutkan atau tidak?. Dari sebuah studi diketahui ada 179 ibu yg menyusui selama 6 bulan dimana 61% diantaranya menyusui selama hamil dan 38% lainnya menyusui bayinya yg baru lahir dan anak balita mereka yg dikenal dengan istilah “tandem nursing”.

 Air susu ibu menyediakan nutrisi penting dan zat-zat imun yang     diperlukan anak selama dia menyusui. Menyapih sebelum usia 2 tahun dapat meningkatkan risiko kesakitan pada anak. Melanjutkan menyusu selama hamil, dapat membantu anak terbiasa dengan adanya bayi baru. Ada beberapa hal yang selama menyusui dengan kondisi hamil ada yakni kebutuhan untuk istirahat, kenaikan berat badan ibu selama hamil, dan kesehatan keseluruhan. Pada beberapa ibu menyusui dalam keadaan hamil, terkadang mengalami rasa lelah berlebih, produksi ASI mulai menurun di tengah kehamilan, dan anak memberi respon dengan menyapih sendiri, namun hal ini tidak terjadi secara umum.

Salah satu kekhawatiran menyusui dalam keadaan hamil adalah terjadinya kontraksi rahim. Stimulasi puting akan melepaskan hormon oksitosin ke aliran darah. Oksitosin berperan dalam proses menyusui karena akan mengkontraksikan otot di kelenjar susu sehingga ASI dapat keluar. Oksitosin juga dapat menyebabkan rahim berkontraksi, sehingga pasca kelahiran dapat membantu mengecilkan kembali rahim dan mencegah perdarahan.

Pada beberapa ibu kontraksi tidak dirasakan, ada juga yang merasakan kontraksi saat menyusui dan menghilang setelah menyusui selesai, namun kontraksi yang terjadi tidak mengganggu kehamilan, sama seperti kontraksi palsu.

Hal ini dapat dijelaskan, rahim memiliki dua peran pertama berperan sebagai tempat berkembangnya bayi dan kedua sebagai alat aktif untuk melahirkan bayi. Oleh karena itu, respon terhadap oksitosin berbeda disesuaikan dengan usia kehamilannya. Saat kehamilan masih muda, reseptor oksitosin tidak sebanyak saat kehamilan aterm (tua). Sehingga saat hamil muda risiko untuk terjadi kelahiran akibat oksitosin yang dikeluarkan saat menyusui sedikit. Selain itu, kadar oksitosin dalam darah ibu hamil yg menyusui lebih sedikit dibandingkan ibu yang tidak menyusui. Selain itu, selama kehamilan, terdapat hormon kehamilan yakni progesteron yang menghalangi oksitosin dan reseptornya untuk bersatu,sehingga kontraksi tidak mudah terjadi. Pada kondisi hamil, “gap junctions protein” yang berperan untuk membantu reseptor oksitosin berespon kuat terhadap okstosin tidak terdapat,sehingga rahim dalam kondisi tenang.

Dengan adanya perlindungan terhadap rahim mulai dari sedikitnya reseptor oksitosin di usia kehamilan muda dan semakin bertambah di usia kehamilan tua, rahim kondisi tenang karena ketiadaan “gap junctions protein”, dan adanya progesterone akan melindungi rahim dari efek kontraksi yg menyebabkan kelahiran. Rahim dalam status tempat berkembangnya bayi hingga saatnya lahir.

Melanjutkan menyusui saat hamil sepenuhnya keputusan ibu dan keluarga. Sesuaikan dengan kondisi, pastikan kehamilan berlangsung sehat, kebutuhan anak akan nutrisinya terpenuhi.

Incoming search terms:

Belajar berbisnis bersama d'BC Network!
Jaringan independent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!

Isi Formulir di Bawah Ini Sekarang Juga!
Dari mana anda mendengar tentang website ini?
Kami menjaga kerahasiaan data anda
*for non Oriflame members only
@copyright d'BCN

Post a comment