Featured Posts

4 Masalah Saat Menyusui Sedang dalam proses awal untuk menyusui? Jangan langsung panik bila air susu anda tak langsung keluar, atau si baby belum dapat menyusui. Masalah saat menyusui memang sering terjadi, dan menyebabkan bayi...

Read more

Frekuensi Menyusui yang Baik untuk Ibu dan Anak Seperti yang banyak diketahui, ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula, bayi yang disusui dengan ASI memiliki lebih sedikit alergi, lebih sedikit penyakit saluran napas dan saluran cerna, dan lebih...

Read more

Tips Memerah ASI Ibu menyusui adakalanya memerah ASI (Air Susu Ibu) baik untuk mencegah terjadinya bengkak di payudara, menjaga produksi ASI dengan mengosongkannya, menyimpan ASI perahan (ASIP) untuk cadangan bahkan untuk...

Read more

Percakapan Bayi dengan Tuhan Percakapan bayi dengan Tuhan... Suatu pagi seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan, Bayi : "Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia,...

Read more

Kondisi Yang Tak Membolehkan Ibu Memberi ASI Pemberian ASI pada bayi jelas sangat dianjurkan sebab ASI makanan terbaik bayi kecuali bila ibu mengalami sakit berat dan mengonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan "mencemari" ASI. Seperti kita ketahui,...

Read more

  • Prev
  • Next

4 Masalah Saat Menyusui

Category : ASI

Sedang dalam proses awal untuk menyusui? Jangan langsung panik bila air susu anda tak langsung keluar, atau si baby belum dapat menyusui. Masalah saat menyusui memang sering terjadi, dan menyebabkan bayi agak sulit mendapatkan ASI. Umumnya, empat masalah ini banyak ditemukan di kalangan ibu-ibu menyusui:

Puting rata atau masuk ke dalam.

Puting yang rata sebetulnya masih bisa digunakan untuk menyusui. Toh, sebelumnya bayi Anda belum pernah mengenal dot atau minum dari botol susu. Jadi, setelah beberapa kali, ia akan terbiasa menyusu dengan puting rata. Sementara, puting yang masuk ke dalam, bila tidak terlalu parah, masih bisa dikeluarkan dengan cara dipijat atau ditarik dengan nipple puller yang banyak dijual di toko perlengkapan bayi.

Lakukan hal ini beberapa bulan sebelum melahirkan, karena menarik puting keluar tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan membutuhkan kehati-hatian. Puting yang terlalu melesak ke dalam biasanya sulit digunakan untuk menyusui. Namun, Anda masih bisa menggunakan nipple extension (perpanjangan puting) yang mirip dot. Alat ini juga dijual di toko perlengkapan bayi. Puting yang rata atau masuk ke dalam sebaiknya tidak digunakan sebagai alasan untuk tidak memberikan ASI pada bayi Anda, karena anda masih tetap bisa mengeluarkan ASI dengan cara memompa.

Puting nyeri

Biasanya, ini terjadi pada masa awal menyusui karena belum terbiasa, atau puting sering digigit bayi sehingga menjadi lecet. Untuk mengatasinya, Anda bisa mencoba menyusui dengan posisi yang berbeda dari biasanya. Selain itu, oleskan baby oil pada puting. Bila tak tahan lantaran terasa sangat nyeri atau berdarah, Anda bisa menggunakan nipple extension saat menyusui.

Payudara melebar

Untuk mengatasinya, anda bisa mengompres payudara dengan air dingin atau mandi dengan air hangat. Selain itu, Anda perlu menyusui secara teratur.

Saluran tersumbat

Saluran yang tersumbat membuat ASI yang keluar dari puting juga sedikit, terasa menggumpal dan sedikit nyeri bila disentuh. Bila tak segera dibenahi, lama-kelamaan ASI bisa berhenti.

Untuk melancarkan saluran ASI, usap payudara dengan handuk hangat dan lembab sebelum menyusui. Ini akan merangsang ASI untuk berjalan keluar menuju puting. Lalu, pijat payudara dengan arah menuju ke puting. Anda juga bisa menyusui dalam posisi yang berbeda-beda.

Frekuensi Menyusui yang Baik untuk Ibu dan Anak

Category : ASI

Seperti yang banyak diketahui, ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula, bayi yang disusui dengan ASI memiliki lebih sedikit alergi, lebih sedikit penyakit saluran napas dan saluran cerna, dan lebih sedikit kemungkinan menjadi gemuk.

Sementara, bagi sang ibu sendiri, menyusui membantu menurunkan berat badan. Jadi, ibu menyusui tak perlu repot menguruskan badan usai melahirkan. Tak hanya itu, menyusui juga menurunkan risiko kanker payudara.

Menyusui akan lebih baik bila dimulai dalam jam pertama setelah melahirkan. Ibu dianjurkan untuk menyusui secara eksklusif selama enam bulan. Eksklusif di sini berarti tidak ada cairan atau makanan apa pun yang disuapkan pada bayi kecuali susu. Air putih, madu, teh, maupun cairan lainnya tidak diperbolehkan. Selanjutnya, setelah bayi berusia enam bulan, ASI diberikan disertai dengan pemberian makanan tambahan hingga usia dua tahun.

Ibu yang baru melahirkan seringkali tidak tahu berapa kali ia perlu menyusui bayinya dalam sehari. Sebaiknya, susui si kecil sesering yang diinginkannya. Biasanya, antara 8-12 kali dalam 24 jam. Susui hingga si kecil puas. Agar ASI keluar secara imbang, susui bayi selama 15-20 menit untuk masing-masing payudara.

Bila si kecil sedang tertidur pulas atau Anda sedang tidak bersamanya, payudara yang penuh akan ASI bisa dipompa. Pagi hari sekitar pukul 04.00 biasanya merupakan saat terbanyak ASI berkumpul. Letakkan ASI dalam wadah yang bersih, biasanya botol kaca. Setelah ditutup rapat, simpan wadah berisi ASI di freezer lemari es. ASI bisa bertahan selama tiga minggu bila disimpan dalam freezer di lemari es satu pintu, dan bertahan 3-4 bulan dalam freezer lemari es yang memiliki dua pintu.

Bila akan dikonsumsi bayi keesokan harinya, turunkan ASI dari freezer ke rak lemari es sejak malam sebelumnya. ASI bisa bertahan 1-2 hari bila disimpan di lemari es pada suhu 0-4 derajat celcius. Dalam suhu 19-25 derajat celcius, ASI hanya bisa bertahan lebih kurang selamaa 4-6 jam.

Tips Memerah ASI

Category : ASI

Ibu menyusui adakalanya memerah ASI (Air Susu Ibu) baik untuk mencegah terjadinya bengkak di payudara, menjaga produksi ASI dengan mengosongkannya, menyimpan ASI perahan (ASIP) untuk cadangan bahkan untuk diberikan jika ibu sedang tidak bersama bayinya. Ibu menyusui dan bekerja lebih sering dan rutin melakukan perah ASI ini hal ini disebabkan lamanya waktu ibu tidak bersama bayinya selama bekerja. Seringkali muncul pertanyaan, apakah jika ibu kembali bekerja dapat memberikan ASI? Jawabannya, tentu saja bisa! Perah ASI dan menyimpan ASI perahan dapat membantu ibu bekerja agar dapat tetap memberikan ASI bagi bayinya.
ASI dapat diperah dengan berbagai cara, berdasarkan keefektifan pengeluaran ASI yang paling pertama adalah dengan perah tangan emnggunakan teknik Marmet, kemudian menggunakan alat. Alat yang digunakan bermacam-macam, ada pompa ASI manual dan ada pompa ASI elektrik bahkan ada pompa ASI yang khusus untuk penggunaan di rumah sakit. Kunci pertama sukses memerah ASI adalah memilih cara dan alat yang dirasa paling nyaman.
Perah ASI dapat dilakukan sejak setelah melahirkan, di waktu setelah melahirkan hingga 2 minggu kemudian perah dilakukan dengan tujuan untuk mencegah bengkak, karena masa-masa ini proses pembuatan ASI matang tengah berlangsung jika perah dilakukan sampai kosong akan memicu produksi lebih banyak lagi dan memicu terjadinya suplai berlebih, sehingga perah dilakukan hingga payudara terasa nyaman saja. Perah ASI untuk menyimpan cadangan ASI selama ibu bekerja bisa dilakukan sebulan sebelum bekerja, atau 2 minggu sebelumnya, karena komposisi ASI berubah setiap hari maka berikanlah ASI perah yang paling mendekati umur bayi. Hasil perahan sejak bayi lahir yang sudah dibekukan dapat disimpan sebagai cadangan jika ASI perah segar habis sebelum ibu pulang.
Ketika ibu masih di masa cuti, perah ASI dilakukan jika ibu telah seleai menyusui bayinya. Jika ibu menyusui bayi di payudara kanan dan bayi sudah kenyang sementara payudara kanan masih terasa penuh maka payudara tersebut diperah dan payudara kiri yang belum disusui, dan bayi sudah enggan menyusu karena kenyang, juga diperah. Sehingga kedua payudara dikeluarkan ASInya di satu waktu menyusu. Jika ibu sudah mulai bekerja, idealnya perah dilakukan sesuai frekuensi bayi menyusu ketika ibu di rumah, sehingga perah dapat dilakukan 2-3 jam sekali. Untuk mempermudah perah di tempat kerja perlu kerjasama dengan atasan dan rekan kerja bahwa ada waktu yang diperlukan untuk memerah, komunikasikan hal ini sedari awal.

Perah ASI idealnya dilakukan di ruangan menyusui yang bersih dan nyaman, namun jika hal ini tidak terdapat perah dapat tetap dilakukan di ruang manapun dengan syarat bersih. Jika tidak ada ruangan yang bersih maka bawalah apron menyusui untuk menutupi saat ibu melakukan perah. Jika di kantor tidak ada kulkas untuk menyimpan ASI perah, bawalah tas / kotak berpendingin (cooler bag/box) yang sudah diisi pak es (ice pack) beku, ASI perah segar tahan 24 jam di dalamnya, tampunglah ASI perah di dalam botol kaca bertutup jika tidak memungkinkan gunakan botol bersih yang ada.

Mengeluarkan ASI dari payudara memerlukan kerja dari hormon oksitosin, untuk dapat merangsang keluarnya hormon tersebut beberapa hal perlu dilakukan. Kata kuncinya adalah nyaman, buatlah diri ibu senyaman mungkin saat akan melakukan rutinitas perah, misal dengan mengalokasikan waktu khusus yang telah disepakati bersama atasan dan rekan kerja. Bawalah perlengkapan yang dapat membantu diri nyaman misalnya membawa foto bayi, baju bayi, pemutar musik, buku, atau cemilan sehat. Lakukan relaksasi sesaat sebelum perah dan pijat lembut payudara, serta tarik ulir puting dan garuk halus areola untuk merangsang keluarnya oksitosin.
Adakalanya, ibu perlu mengejar stok ASI perah umumnya disebabkan bayi minum lebih dari perkiraan biasanya disebabkan penggunaan dot. Untuk mengejar hasil perahan ada tips yang dapat dilakukan :
1. Ganti media pemberian ASI perah dengan gelas kecil, sloki, sendok
2. Perah rutin di kantor 2 jam sekali, koordinasikan dengan atasan dan rekan kerja
3. Perah 1-2 kali di malam hari, saat malam kadar hormon prolaktin yang menghasilkan ASI lebih tinggi
4. Menyusui langsung ketika bersama bayi dengan posisi pelekatan tepat/efektif
5. Persering kontak kulit langsung antara ibu dan bayi

Semangat menyusui, edukASI diri dan menyusuilah dengan keras kepala!